kapal-patroli-china

Ketua DPP Partai Gerindra Heri Gunawan mengingatkan pemerintah waspada terhadap gangguan dari kapal nelayan dan patroli pantai (coats guard) Tiongkok yang masuk wilayah perairan Natuna di Kepulauan Riau. Menurutnya, Natuna memang kaya sumber daya alam sehingga menjadi incaran negara lain.

Heri mengatakan, insiden antara kapal pengawas Hiu 11 milik Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan kapal coast guard Tiongkok di perairan Natuna beberapa waktu lalu bukan semata-mata masalah ilegal fishing. Ia meyakini wilayah Natuna memang jadi incaran karena sumber daya alamnya.

“Konflik Natuna adalah soal perebutan sumber daya alam. Selain minyak bumi, wilayah itu menyimpan cadangan gas alam terbesar di dunia. Banyak ahli mengklaim Natuna adalah surga energi terbesar di dunia yang bernilai ekonomi tinggi,” kata Heri saat dihubungi di Jakarta, Minggu (27/3).

Dari data yang ia peroleh, di Blok Natuna D-Alpha tersimpan cadangan gas dengan volume 222 triliun kaki kubik (TCF). Cadangan itu tidak akan habis hingga 30 tahun ke depan.

Sementara potensi gas yang recoverable di Kepulauan Natuna sebesar 46 TCF atau setara 8.383 miliar barel minyak. Bila digabung dengan dengan minyak bumi, terdapat sekitar 500 juta barel cadangan energi hanya di blok itu.

“Jika diuangkan, kekayaan gas Natuna mencapai Rp 6.000 triliun. Nilai itu sama dengan tiga kali lipat APBN saat ini,” ulas politikus asal Jawa Barat itu.

Karenanya ia menegaskan, tindakan coast guard Tiongkok di Natuna tidak hanya melecehkan kedaulatan Indonesia. Sebab, aksi coast guard Tiongkok yang melindungi nelayan pencuri ikan bisa jadi merupakan bagian dari upaya sistematis Negeri Panda itu untuk mencaplok Natuna karena motif penguasaan SDA.

“Rasanya China akan terus ngotot mencaplok Natuna, karena mereka tahu akan untung besar dari pendapatan gas. Sedang kita buntung,” ujar anggota Komisi XI DPR itu. (jpnn.com)